Harris Turino Kurniawan

Berkat pemahamannya tentang manajemen strategik mengantarkan HarrisTurino Kurniawan menjadi pengusaha sukses. Bisnisnya sampai merambah ke belahan Benua Afrika.

Dr. Harris Turino Kurniawan adalah alumni Fakultas Tehnik Jurusan Elektro Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga tahun 1993. Pria kelahiran  Tegal, 15 Juli 1968 ini menyandang dua gelar Magister di dua disiplin ilmu yang berbeda, yaitu Magister Manajemen Internasional dari Prasetiya Mulya Business School tahun 1998, dan Magister Science Ilmu Kepolisian tahun 2000.

Harris Turino juga berhasil meraih gelar doktor di bidang Strategik Manajemen pada tahun 2010, dengan predikat cumlaude, serta memperoleh penghargaan dari Musium Rekor Dunia – Indonesia (MURI), sebagai Lulusan Doktor Manajemen Stratejik Tercepat (22 bulan 25 hari) pada Program Pasca Sarjana Ilmu Manajemen Universitas Indonesia.

Selain berkarier sebagai entrepreneur dan pelaku bisnis dengan memimpin beberapa perusahaan, di antaranya PT. Kleo Beauty, PT. Fazio Beauty, PT. Haduo Herbatech, PT. Argo Mas Prima dan PT. Beaucell Cipta Lestari, PT. Infinisia Sumber Semesta, PT. Argo Adhi Pradana, dan PT. Acquiro Consulting and Search, Harris Turino juga seorang akademisi, mengajar di Program Doktoral Pasca Sarjana Ilmu Manajemen (PPIM) dan Magister Management Universitas Indonesia, Program Pasca Sarjana Creative Industry and Urban Culture di Institut Kesenian Jakarta, Program Magister Management Prasetiya Mulya dan IPMI, Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian Jakarta, serta dosen terbang di Doctoral Program in Management Universitas Sumatera Utara, Medan.

Di tengah kesibukannya yang luar biasa, Harris Turino masih menyempatkan diri untuk menulis beberapa artikel ilmiah yang terbit di beberapa jurnal akademik, maupun artikel popular di beberapa surat kabar, seperti Investor Daily, Harian Kontan dan Harian Kompas. Salah satu paper ilmiahnya yang berjudul “The Effect of Image Compatibility and Escalation of Commitment on Decision Performance” terpilih sebagai Best Paper Presenter di International Converence on Business and Management Research (ICBMR) terbit di Ateneo de Manila University, Manila Phillippines, 28 Oktober 2011.

Aktif juga sebagai konsultan manajemen dan pembicara di beberapa perusahaan seperti PT. Pertamina, PT. Wijaya Karya, PT. Bank Tabungan Negara, PT. Bank Central Asia, PT. Bank Bukopin, Astra Credit Company, PT. Kalbe Farma, Perum Pegadaian, PT. Anugrah (Combiphar), dan Orange Drugs Limited Nigeria serta Orange Drugs West Africa. 

Pria dengan seorang istri dan dua anak ini meyakini bahwa keberhasilan akan bisa tercapai apabila ada faktor keberuntungan , yaitu sinergi antara kesempatan (opportunity) dan kompetensi diri (competence),  serta kerja keras tanpa mengenal lelah untuk meraih “keberuntungan” tersebut.

Doktor Anda di bidang manajemen stratejik. Kenapa Anda tertarik mengkaji manajemen stratejik?

Tentu saja ini terkait dengan posisi saya sebagai seorang entrepreneur yang saat ini memimpin beberapa perusahaan. Premis dasar manajement strategik adalah menghasilkan kinerja perusahaan yang lebih unggul dibandingkan dengan pesaing.

Manajemen strategik berfokus pada penciptaan keunggulan bersaing, bukan semata-mata profit (keuntungan) saja, dan bersifat sustainable, melalui pengelolaan sumber daya perusahaan secara efektif dan efisien. Bidang ini tentu sangat diperlukan untuk mendukung posisi saya agar bisnis yang saya memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan perusahaan pesaing. 

 

Konsep tersebut berhasil Anda implementasikan di perusahaan Anda ?

Tentu saja saya mengimplementasikan konsep manajemen strategik di semua perusahaan yang saya kelola. Mulai dari mengindentifikasi peluang bisnis, mengkoordinasikan seluruh sumber daya yang saya miliki, baik sumber daya manusia, kapital maupun intelektual, strategi memenangkan persaingan, sampai strategi dalam pengelola pertumbuhan usaha.

Sebagai contoh di salah satu perusahaan yang saya kelola, PT. Haduo Herbatech di industri farmasi. Saya berhasil mengidentifikasi peluang bisnis untuk memproduksi produk-produk farmasi untuk dipasarkan di Nigeria dan kawasan Afrika Barat lainnya. Respon pasar cukup baik terhadap produk yang saya buat. 

 

Kenapa memilih pasar Nigeria, bukannya negera tersebut sedangan mengalami krisis politik ?

Kebetulan mitra bisnis saya berasal dari Nigeria. Nigeria termasuk negara berkembang di kawasan Arika Barat yang pasarnya cukup besar dibandingkan negara Afrika lain.  Pertumbuhan ekonominya cukup bagus. Tingkat ketidak-pastian bisnis cukup tinggi di Nigeria, baik dari segi politik maupun keamanan seperti serangan kelompok Boko Haram di Nigeria Utara. Nah ketidakpastian inilah yang menciptakan peluang.  

 

Sebagai pelaku ekonomi, menurut  Anda apakah Indonesia sudah siap menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) yang akan berlaku mulai tahun 2015?

Kita tidak memiliki alternatif. Kita harus siap. Indonesia memiliki peluang yang besar untuk mengambil keuntungan di MEA. Sebab Indonesia adalah negara besar yang memiliki sumber daya yang melimpah. Seandainya Indonesia diisolasi di bidang perdagangan oleh internasional – Indonesia tetap bisa hidup. Itulah kehebatan Indonesia. Tak banyak negara yang punya kemampuan seperti itu.

Total penduduk Asean sekitar 560 juta. Sedangkan Indonesia sendiri 250 juta. Hampir separuh penduduk Asian ada di Indonesia.  Jelas Indonesia memiliki keunggulan dari sisi economic of scale (skala ekonomi). Ini yang harus dimanfaatkan oleh Indonesia untuk bersaing di kawasan Asean. Peluang-peluang yang ada di kawasan Asean lain musti bisa ambil. Jadi para pengusaha Indonesia harus siap juga menjadi pemain regional dan tidak hanya membiarkan Indonesia dijadikan pasar bagi para pemain lain di Asean.  

 

img_6491_bw-copyKalau begitu posisi Indonesia di pasar internasional sangat diperhitungkan ?

Itu sangat jelas. Dulu tahun 2001 Goldman Sach pernah mengeluarkan konsep BRIC, yaitu Brasil, Rusia, India dan China sebagai negara dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi. Saya sebenarnya berharap Indonesia masuk ke dalam kelompok BRIC itu dengan menambahkan satu ”I” di belakangnya, sehingga menjadi BRICI. Tetapi ternyata di tahun 2012, Goldman Sach bahkan merevisi BRIC dan menggantinya menjadi MIST yaitu Meksiko, Indonesia, Korea Selatan dan Turki. Keempat negara tersebut diprediksi oleh Goldman Sach menjadi sumber pertumbuhan ekonomi dunia.

Dari sisi geografis keempat negara tersebut memiliki letak yang sangat strategis, yaitu menjadi penghubung bagi kawasan negara maju dan negara berkembang. Dari sisi demografis, keempatnya adalah negara yang sedang memasuki fase demographic devidend (bonus demografi), di mana jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dibandingkan dengan usia tidak produktif. Bonus demografi ini harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk memicu pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Sebagai gambaran, zaman dulu seorang Bapak dengan penghasilan Rp. 10 juta per bulan, memiliki lima orang anak dan seorang istri yang tidak bekerja. Berarti daya beli masing-masing anggota keluarga tersebut hanya Rp. 10 juta dibagi 7 orang, yaitu sekitar Rp. 1.5 juta per bulan.

Sekarang dengan jumlah anak hanya dua orang, dan kedua orang tuanya bekerja, maka daya beli masing-masing anggota keluarga adalah Rp. 20 juta dibagi empat orang, yaitu sekitar Rp. 5 juta per bulan. Dari ilustrasi sederhana ini saja terlihat kenaikan daya beli yang sangat besar pada sebuah keluarga. Secara agregat pada skala negara, ini akan menjadi faktor pendorong pertumbuhan ekonomi yang luar biasa.

 

Karena faktor itu pula pemerintah selalu menganjurkan KB (Keluarga Berancana) ?

Iya. Tapi sebaiknya program KB diikuti pembangunan infrastruktur. Bonus demografi ini harus didukung oleh kebijakan pemerintah yang mumpuni, terutama di bidang infrastruktur dan kemudahan melakukan usaha. Bonus demografi ini hanya muncul sekali dalam perjalanan sejarah sebuah bangsa. Bila Indonesia gagal memanfaatkan momentum ini maka Indonesia akan menjadi negara gagal. Puncak bonus demografi di Indonesia akan terjadi pada tahun 2025 – 2030. Kita masih memiliki waktu untuk menata infrastruktur di Indonesia.

Program kerja pemerintahan saat ini jelas, yaitu pembangunan infrastruktur. Pembangunan tol laut, jalur kereta api dan jalan tol dan pembangkit listrik merupakan prioritas utama. Apabila Indonesia tidak memiliki infrastruktur yang memadai, maka kita tidak akan mampu bersaing akibat biaya logistik yang tinggi.

 

Bagaimana cara meraih opportunity tersebut, sementara barang yang bertebaran di negeri ini umumnya berasal dari luar negeri ?

Pemerintah perlu memfasilitasi agar iklim usaha di Indonesia lebih kondusif dan banyak pengusaha-pengusaha Indonesia yang tercipta. Di negara maju jumlah pengusaha minimal 2,0 – 2,5 % dari jumlah penduduk. Sementara di Indonesia baru mencapai angka 1,6 %, jauh di bawah Singapura yang 7,0 % atau Malaysia 4,3 %. Dalam hal ini pemerintah perlu membuat kebijakan yang menciptakan kemudahan iklim berusaha di Indonesia dan memangkas proses perijinan yang bertele-tele.

Dengan memiliki pengusaha yang banyak dan mampu bersaing, minimal di level Asean lah, maka bukan hanya barang-barang dari luar negeri saja yang beredar di Indonesia lewat konsep pasar bebas, tetapi produk Indonesia juga tersebar di negara-negara lain di kawasan Asean.

 

Anda tidak takut dengan penguasaan Asing yang kelak menguasai Indonesia?

Keberadaan PMA (Penanaman Modal Asing) tetap harus diatur. Beberapa industri strategis tidak bisa 100 persen dikasih ke PMA. Contoh industri bahan baku dan produk jadi di industri farmasi, PMA hanya boleh 85 %. Ia harus bermitra dengan pengusaha lokal.

 

Bisa ceritakan proses pertemuan Anda dengan istri ?

Ia teman kuliah saya, tapi beda fakultas di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Primadona kampus, banyak yang suka sama dia. Tapi yang berani mendekati dan menemui orang tuanya cuma  saya. Saya jadi pemenangnya.  Selain cantik, ia wanita yang baik hati dan bekerja keras. Sejak muda sudah punya usaha bidang kecantikan, salon. Itu yang membuat memutuskannya menjadi istri. Ketika hijrah ke Jakarta – istri saya tetap menekuni usaha salon dan sukses.

 

Saat mengambil S3 di Universitas Indonesia, Anda termasuk mahasiswa lulus  tercepat, hingga memperoleh penghargaan dari MURI……

Saya berhasil menyelesaikan program doktoral dalam waktu 22 bulan 25 hari dan saya mendapatkan predikat Cumlaude. Menurut saya kuncinya adalah komitmen dan  konsisten. Kebetulan saya diuntungkan punya banyak waktu untuk kuliah. Selama saya studi doktoral banyak pekerjaan saya di kantor yang saya delegasikan ke rekan kerja saya.

 

Ngomong-ngomong apa hobi Anda ?

Saya suka main golf. Banyak hikmah yang bisa kita ambil dari golf. Selain melatih kesabaran. Golf mengajarkan kita tentang kejujuran. Sebab di golf tidak ada wasit. Wasitnya kita sendiri.           Dari sisi psikologi, golf kita bisa  mengetahui karakter orang. Kalau mau mengambil karyawan, terutama untuk level manajerial, golf bisa dijadikan alat buat mengetes karyawan.

 

Dari sisi bisnis. Lapangan golf  merupakan tempat paling efektif untuk lobi bisnis. Sambil berjalan bermain di lapangan golf, bisa dilakukan lobi-lobi bisnis. Jadi nanti tinggal difinalisasi di kantor setelah isu-isu strategisnya bisa diselesaikan di lapangan golf.

 

Bagaimana dengan kehadiran caddy yang kabarnya sering terjalin hubungan ”asmara” dengan  tamu ?

Itu tergantung kita. Kebetulan saya member di lapangan golf yang caddy-nya kebanyakan adalah  pria. Bukan wanita, jadi tak terjadi hal-hal yang tak inginkan. Harus diakui, kehadiran caddy oleh sebagian pemain  kadang bisa membuat suasana permainan semakin seru. Terjalinnya hubungan antara caddy dengan tamu memang bisa saja terjadi.

 

Dalam kondisi sekarang apa masih punya waktu untuk membaca ?

Tentu saja. Membaca bagi saya adalah wajib hukumnya. Sebagai seorang akademisi tentu saya harus terus meng-update pengetahuan saya. Membaca dan membagikan ilmu adalah bagian dari hidup saya. “Knowledge multiplies when shared”, itulah prinsip saya. Pengetahuan akan berkembang bila dibagikan ke orang lain.

 

Kutipan :

 

“Mitra bisnis saya berasal dari Nigeria. Nigeria termasuk negara berkembang di kawasan Arika Barat dibandingkan negara Afrika lain.  Pertumbuhan ekonominya cukup bagus.”

 

”Ia teman kuliah saya. Primadona kampus, banyak yang suka sama dia. Tapi yang berani mendekati dan menemui orang tuanya cuma saya. Saya jadi pemenangnya.”

 

“Di lapangan golf saya menggunakan caddy  pria. Bukan wanita, jadi tak terjadi hal-hal yang tak inginkan. Terjalinnya hubungan antara caddy  dengan tamu memang sering terjadi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *