Alat bantu penglihatan penderita low vision

“Bank” : Peduli Anak Berkebutuhan Khusus

Di Indonesia, terdapat sekitar 3,5juta orang mengalami kebutaan pada kedua belah mata dimana 50-60 persennya atau sekitar 1,5 juta mengalami kebutaan akibat katarak. Penyebab lainnya adalah glukoma dan penyimpangan pembiasan mata(refractive error).

Bpk Dody Rochadi, Country Head Corporate Affairs Standard Chartered Bank Indonesia

Berangkat dari sana,  menjadii  perhatian diiringi gerakan yang prakasai dan dijalani  Standard Chartered Bank  (“Bank”)   CBM serta Yayasan Pelayanan  Anak dan Keluarga (“LAYAK”),  untuk kemudian   menggelar pelatihan bagi guru dari 14 Sekolah Luar Biasa (“SLB”) di wilayah Jabodetabek, untuk tujuan  peningkatan kapasitas guru dalam membantu anak-anak berkebutuhan khusus dengan penglihatan terbatas (low vision).

Pada pelatihan yang  berlangsung di Pusat Pelatihan Yayasan Pendidikan Dwituna Rawinala Jakarta, ke-14 SLB yang  menerima pelatihan adalah SLB Rawinala, SLB Triasih, SLB Lenteng Agung, SLB Tan Miyat Bekasi, SLB Bhakti Luhur, LSB Assyafiyah, SLB Surya Wiyata, SLBN Depok, SLB Manunggal Bakti, SLBN 7 Jakarta, SLB Frobel Montessorry, SLB Asih Budi II, SLB Sana Dharma, dan SLB Pemina.

Pelatihan yang diberikan terdiri dari cara melakukan asesmen bagi penderita penglihatan terbatas (low vision) hingga pemberian rekomendasi penanganan lanjutan bagi orang tua maupun pihak terkait lainnya.

Program pelatihan ini sendiri  merupakan bagian dari Seeing is Believing Addressing Child Blindness Low Vision & Visual Impairment Project yang diluncurkan pada akhir 2015 dengan target wilayah kerja di Jabodetabek, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat untuk periode 5 tahun.

Tercatat hingga hari ini, program ini telah menjangkau 1.800 anak berkebutuhan khusus dari 40 SLB di Jabodetabek dan Makassar. Dari 1.800 anak tersebut, 794 di antaranya telah memperoleh layanan lanjutan.

Ibu Evi Tarigan, Ketua Umum Yayasan LAYAK & Ibu Sri Waniti (Guru)

Atas dijalankannya program, ini Dody Rochadi, Country Head Corporate Affairs Standard Chartered Bank Indonesia, mengungkap,“Kami berharap melalui program Seeing is Believing, kami dapat berkontribusi menurunkan jumlah angka kebutaan di Indonesia sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di Daerah hingga Nasional. Inilah komitmen kami untuk Indonesia.”

Prevelensi  kebutaan, dituturkan  oleh Evie Tarigan, Ketua Umum Yayasan LAYAK, salah satu lembaga non-profit yang menjadi rekan Standard Chartered Bank dalam program Seeing is Believing,  kiranya  juga dapat dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi.

Jelasnya,”Minimnya akses untuk mendapatkan pencegahan dan penanganan gangguan penglihatan dan kebutaan juga sangat dipengaruhi oleh keterbatasan finansial, rendahnya mobilitas dan rendahnya paparan terhadap informasi. Karenanya kami sangat mengapresiasi program Seeing is Believing yang fokus pada upaya pencegahan kebutaan dan peningkatan kesadaran akan dampak kebutaan dan menjamin akses pelayanan rehabilitasi bagi gangguan penglihatan permanen.”

Dan sebagai penghargaan terhadap komitmen dan konsistensinya, program Seeing is Believing berhasil memenangkan beberapa penghargaan, d iantaranya rekor ‘MURI, dan ,Global Gold CSR Leadership Award’.

[]Andriza Hamzah

Bahan Tulisan & Foto : ID COMM

Check Also

Dekap Hangat 50 Anak Yatim Piatu

Menginjak 25 tahun kehadirannya, dan mencapai keberhasilan menjadi bagian dari para pecinta  dan penikmat kuliner …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *