TB Bukan Untuk Ditakuti #PeduliKitaPeduliTBC

Pernahkah Anda mendengar penyakit TBC?

Adalah penyakit menular yang paling banyak menyebabkan kematian, sehingga  menjadi ancaman berbahaya bagi kesehatan masyarakat. Angka mengejutkan, di Indonesia, pada 2016 tercatat 1.020.000 penderita. Menjadikan  Indonesia sebagai Negara dengan kasus TB terbesar ke-dua di dunia setelah India

Dari sana, sebuah kampanye tentang penyakit yang mematikan pun  diadakan. Tema #PeduliKitaPeduliTBC” yang digelar oleh Forum Stop TB Partnership Indonesia (FSTPI) di Kantor Pusat PPTI, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, pada 16 Januari 2018 lalu.

Pada peluncuran kampanye, Arifin Panigoro, Ketua Umum FSTPI, menyampaikan ,”Penyakit TBC ini adalah penyakit lama terjadi hampir di seluruh dunia dan penanganannya tidak sederhana.  Menurut saya, semua masyarakat harus terlibat,  Pemerintah bersama masyarakat perlu melenyapkan TBC ini”.

Lanjutnya, bagi yang terkena TB, bersegeralah melapor ke Puskesmas, untuk kemudian menjalani pengobatan.

Dr. dr. Erlina Burhan, MSc, SpP (K), dokter ahli paru dari RSUP Persahabatan, dalam keterangan pers menguraikan terkait penyakit TBC. “Umumnya pengobatan TBC pasiennya menganggap dua bulan pertama merasa sudah sembuh sehingga berhenti meminum obat. Ini yang berbahaya. Ini akan menimbulkan TBRO. Untuk itu, yang perlu kita perhatikan adalah pencegahan bagaimana TBC tidak tertular ke kita”.

Dokter Erlina Burhan menambahkan, untuk mencapai Indonesia bebas TB pada 2050 diperlukan usaha luar biasa. Kementerian  Kesehatan tentu tidak boleh hanya bekerja apa adanya atau business as usual. Semua yang yang memiliki kontak langsung dengan pasien TBC, harus diperiksa dan dievaluasi. Ia juga mengharapkan ada usaha mencari pasien TBC dengan melakukan penapisan (screening) pada tempat-tempat umum, seperti di transportasi publik.

Di acara yang sama, Executive Secretary FSTPI Mariani Reksoprodjo menyampaikan FSTPI yang sebagai fasilitator akan  terus bekerja sama dengan semua pihak untuk menyebarkan informasi terkait TBC kepada masyarakat Indonesia.

            “Berbagai penyuluhan dilakukan dengan prinsip preventif dan promotif. Penyakit TBC harus segera diobati dan pasti sembuh asal pengobatannya betul dan tidak pernah putus obat,” Mariani Reksoprodjo menambahkan keterangannya.

            Target kampanye Nasional TBC yang dilaksanakan oleh FSTPI, yakni generasi milenial yang pada kisaran usia 15-30 tahun. Format kampanye dalam bentuk video yang diviralkan lewat berbagai platform media sosial.

Agar kampanye TBC meluas ke segala  lapisan masyarakat, Gaby, salah satu anggota steering commettee kampanye nasional TBC FSTPI, mengatakan bahwa milineal perlu dijadikan target kampanye karena kelompok ini akrab dengan penggunaan gawai dan sangat aktif di media sosial.

“Lewat kampanye #PeduliKitaPeduliTBC diharapkan informasi terkait TBC bisa diketahui oleh kaum milineal, terutama bagi teman sebayanya dan keluarganya,” kata Gaby.

Dalam kampanye Nasional TBC ini, FSTPI menggandeng beberapa figur publik, antara lain Reza Rahadian dan seniman mural Tutugraff, serta Donna Agnesia.  Figur publik yang memiliki banyak pengikut di media sosial ini diharapkan bisa menjadi penyebar informasi dan membuat masyarakat yang mengikuti mereka peduli terhadap TBC.

            Artis Donna Agnesia yang hadir dalam diskusi media tersebut menyampaikan alasannya tertarik dalam kampanye TBC ini. “Ponakan saya ada yang pernah menderita TBC. Maka saya tertarik terlibat dan  ingin mengetahui lebih banyak lagi soal penyakit menular ini. Cukup menganggetkan,  ternyata kasus TBC di Negara kita ini sangat banyak,” ujar istri dari Donna Agnesia.

[]Chiky

 

Check Also

Wajah & Kulit Tubuh Terawat Nan Aduhai

Bagi sebagian wanita, memiliki tubuh yang sehat,  wajah  pun cerah, ditunjang kulit bening, tentulah bisa …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *